Selasa, 08 November 2011

Spirituality islam dalam pekerjaan sosial


SPIRITUALITY ISLAM DALAM PEKERJAAN SOSIAL
BY; EL DICK MUHAMMAD
Bagian 1


Sekilas jejak spirituality islami

A.    Masa jahiliyah (umat manusia dalam keadaan mengkhawatirkan).
Abad ke 6 dan ke 7 M, dapat dikatakan merupakan abad yang paling merosot dalam kehidupan sejarah manusia. Beberapa abad lamanya manusia mengalami kemerosotan total ini. Tidak ada suatu kekuatan pun di permukaan bumi yang dapat menghindar dari kemerosotan itu.
Makin hari kemerosotan manusia makin bertambah drastic. Di abad itu manusia melupakan penciptanya. Bahkan telah lupa pada dirinya dan pegangan hidupnya sendiri. Manusia sudah kehilangan perasaan untuk dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Ajaran Allah yang dibawa para nabi telah lama lenyap. Pelita yang mereka nyalakan pudar, atau nyala namun redup. Nyala namun itu nyala pada hati yang beberapa orang saja. Dan tak menembus ruang yang luas. Nyala namun tak mampu menerangi rumah ataupun Negara.
Pemuka-pemuka agama banyak yang mengasingkan diri dari lapangan kehidupan. Mereka banyak yang mengasingkan diri dalam gereja-gereja, sinogog-sinagog, maupun tempat peribadatan lainnya untuk mejauhkan iman darin gangguan dan penindasan. Mereka mengasingkan karena merasa apatis terhadap terhadap diri mereka sendiri, ingin mencari ketenangan, melarikan diri dari tugas hidup, ataupun merasas gagal dalam berjuang dalam agama, politik, kerohanian dan kebendaan. Sedangkan golongan yang lain, mereka memilih hidup untukbersenang-senang dan bergaul dengan kelas raja-raja dan kaum hartawan. Mereka lebih senang bekerjasama dengan para penguasa itui dalam kejahatan, kezaliman dan memakan harta orang denagn car ayang batil.
Banyak agama besar yang dirusak dan dipalsukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Agama telah kehilangan bentuk aslinya. Kalau pembawa risalah agama-agama itu di bagkitkan kembali, pasti mereka tak akan mengenalinya lagi. Banyak pusat peradaban dan ilmu pengetahuan maupun pemerinyahan dan politik yang berubah menjadi gelanggang pertarunagn, keruntuhan moral, kekacauan pemerintahan dan kebiadaban penguasa.hal ini terjadi karna mereka telah kehilangan nilai dan tujuan hidupnya.

B.     Dari zaman jahiliyah kepada islam
Dunia yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW..beliau di utus ketika keadaan dunia waktu itu bagaikan sebuah gedung yang baru saja digoncang oleh gempa yang sangat dahsyat. Semua tak teratur. Ketika beliau mengarahkan pandangan ke alam ini, beliau dapati manusia telah kehilangan kemanusiaannya. Beliau dapat banyak manusia yang menyembah berhala, pohon, sungai dan segala apa saja yang tak dapat membawa keuntungan maupun kerugian. Beliau melihat manusia ini telah kehilangan keseimbangan dalam cara berpikirnya. Perasaan kemanusiaannya telah berubah. Sehingga mereka tidak dapat lagi membedakan antara yang baik dan yang buruk. Seorang yang jahat yang seharusnya dimusuhi tapi saat itu justru sebaliknya.
Nabi beranggapan bahwa manusia ini bagaikan bahan dasar
yang belum di kelola. Oleh karena itu bahan ini tak dapat digunakan untuk menunjang berdirinya suatu peradaban sedikitpun. Manusia waktu itu tak lebih hanyalah seperti potongan-potongan kayu yang belum dijadikan perahu yang dapat di gunakanuntuk mengarungi lautan kehidupan.

C.    Masa Islam
Setelah kaum muslimin bangkit, mereka langsung memengang kendali dunia. Mereka pecat bangsa-bangsa yang sedang sakit dari kepemimpina kemanusiaan, karena kesalahan dan kejahatan yang telah mereka perbuat. Kaum muslimin menggerakan manusia secara bijaksana, harmonis dan adil. Mereka memiliki berbagai sifat yang menyebabkannya berhar mengendalikan bangsa-bangsa untuk menjamain kebahagiaan dan kemajuan di bawah naungan dan kepemimpinan mereka.
Mengapa spirituality islam ini mampu mengambil kendali dunia:
·         Umat islam adalah pemegang kitab yang diturunkan dari langit dan menjalankan syariat yang ditetapkan ALLAH SWT.
·         Mereka tidak melaksanakan hukum dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlaq dan kebersihan jiwa.
·         Mereka berbakti tidak untuk satu bangsa saja.
·         Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, punya hati, akal, perasaan, dan panca indera. Manusia tak merasa bahagia, beruntung, maju secara seimbang dan adil sehingga semua unsure-unsur dan kekuatan itu tumbuh dan berkembang secara seimbang dan baik.

Bagian 2


Nilai-nilai utama dalam spirituality islam

1.      ROBBANIYAH (KETUHANAN)
Yang dimaksud disini adalah setiap manusia sesungguhnya memiliki keterkaitan dengan penciptannya. Maka, bagi seorang muslim ia meyakini dengan penuh keimanan akan tuhannya semata yang berhak untuk disembah dan di mintai pertolongan. Inilah yang terkandung dalam bacaan surat al fatihah yang selalu diulang-ulang 17 kali dalam sehari didalam sholatnya “iyakanabudu wa iyakanastain” hanya kepadaMU lah kami menyembah dan hanya kepadaMU lah kami meminta pertolongan.

2.      INSANIYAH (KEMANUSIAAN)
Dan nilai kedua dalam spirituality islam adalah menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Dan inilah yang  diterangkan dengan sangat jelas. Manusia adalah makhluq akan tetapi makhluq yang diberikan kelebihan oleh Allah. Dan secara detail akan kami bahas pada bagian pandangan islam tentang manusia dan kemanusiaan.

3.      ASY SYUMUL (UNIVERSAL)
Nilai Syumul inilah yang menjadi karekteristik islam unggul dibanding filsafat-filsafat yang lainnya. Keuniversalnya mencakup seluruh zaman, kehidupan, dan seluruh aspek kemanusiaan. Sebuah risalah yang membentang memenuhi lorong waktu, mengatur seluruh umat manusia dan begitu mendalam mengajarkan akan kehidupan dunia dan akhirat.

4.      ALWAQI’IYAH (REALISTIS)
Dalam islam manusia adalah makhluq yang terdiri dari dua unsure. Oleh karena itu dalam sejarah kenabian, rasul melarang ada umatnya yang hendak terus berpuasa dan tak akan berbuka, ada pula yang tak mau menikah dan ada pula yang hendak sholat dan tak mau beristirahat. Ini dilarang karena pada realitanya manusia hanya manusia bukan malaikat. Dan dalam satu kisah juga di ceritakan bagaimana seseorang yang mengeluh karena tak mampu mempertahankan keimanan setelah bergumul kembali dengan kel;uarganya, maka rasul memberikan penjelasan bahwa” karna kamu adalah adalah manusia.

5.      ALWUDUH (JELAS DAN TERANG)
Dan diantara nilai utama dalam spirituality islam ini adalah adanya sebuah kejelasan yang seutuhnya akan sumber dasarnya yaitu aqidah, tujua-tujuannya dan juga metode dan cara mencapainya diterangkan dengan begitu menyeluruh sehingga tak meninggal kesamaran.

6.      AT THATOWUR WA TSABAT (BERKEMBANG DAN KONSISTEN)
Pada nilai inilah islam begitu terlihat luwes terhadap sesuatu. Karna dalam islam tak ada kejumudan berfikir. Dan kita mengenal apa yang biasa disebut dengan ijtihad dalam hukum. Dan karna hal ini kita menjadi umat yang sangat moderat. Jauh jauh dari radikalisme. Dan jauh pula dari liberal..dalam bahasa alqur’an kita mengenalnya dengan “umatan wasatha”…

Bagian 3



PANDANGAN SPIRITUALITY ISLAM TENTANG HIDUP

Islam sangatlah memuliakan hak untuk hidup dan menjalani kehidupan, dan melindunginya dengan pendidikan dan bimbingan baik itu dari syariat ataupun dari hukum. Dari sisi kejiwaan, fikriyah ataupu social. Dan mengkatagorikan hidup dan kehidupan adalah hadiah yang besar dari ALLAH SWT. Dan tak boleh kita menyandingkannya kepada yang lain. Maka, tak ada hakim yang berhak menghilangkan nyawa terdakwahnya, ataupun seorang tuan terhadap budaknya, ayah terhadap anaknya, suami terhadap istrinya.
Inilah yang semenjak dahulu diperangi oleh islam. Dahulu ahlu jahiliyah yang menjadi kebiasaannya adalah membunuh anak laki-laki karna takut akan kemiskinan dan tak mampu menafkahinya. Dan juga membunuh anak perempuan karna merupakan aib besar jika memilki anak perempuan..dan islam datang menjelaskan diantara dosa besar ialah membunuh anak yang disebakan oleh ketakutan akan kemiskinan..’al isra : 31’..
Dan islam tak pernah sedikitpun membedakan antara si putih dan si hitam, antara si besar dan si kecil, bahkan hingga janin yang masih dalam kandungan ibunya pun baik itu dari jalan yang halal ataupun haram tetap memiliki hak yang sama. Karna satu alasan hidup adalah sebuah kemuliaan yang harus dijaga. Dalam sejarah kita mendapati satu kisah dari hadist, bagaimana perempuan datang kepada Rasulullah SAW. Dan menyampaikan bahwa ia telah berzina dan meminta agar dikenakan padanya hukuman “HAD” . akan tetapi ia Rasul memerintahkan pulanglah sampai anakmu lahir. Setelah lahir kembali datang si perempuan tersebut dan Rasul pun kembali menyuruhnya agar pulang sampai anak mendapatkan asih yang cukup. Ini menjadi sebuah bukti bahwa dalam spirituality islam kehidupan mendapatkan ruangnya yang tepat.
Maka, karna kepentingan dan besarnya perhatian ini. Kita mendapati dalam alqur’an ayat-ayat yang menerangkan tentang ini secara jelas dan kita dapati pula dalam hadist tentang berat hukuman bagi pembunuh. Bahkan dianatara ulama ada yang hingga beranggapan termasuk dosa yang tak dapat diampuni walau dengan taubat.


Bagian 4



PANDANGAN SPIRITUALITY ISLAM TENTANG MANUSIA
Dalam pandangan islam yang tercantum dalam kitabnya sesuangguhnya adalah pembahasan tentang manusia. Dan al qur’an bagi kaum muslimin adalah refrensi asasi. Maka, Pembicaraan seluruhnya dalam al qur’an adalah pembicaraan tentang manusia. Sebagai buktinya kita dapati jumlah yang besar kosakata yang menunjukan makna manusia. Al-insan sebanyak 63 kata, bani adam sebanyak 6 kata, dan an-nas sebanyak 240 kata. Dan semua itu tentang asal muasal, sejarah umat terdahulu hingga tujuan diciptakannya manusia. Tak ada yang terlewatkan.
Ada dua hal yang paling mendasar. Pertama, islam memandang manusia makhluq yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan makhluq yang lainnya, yaitu dengan akal dan ruh ilahi..inilah yang membuatnya mulia diantara makhluq ALLAH yang lainnya. Dan yang kedua islam memandang bahwa manusia diberikan qudrah (kemampuan) untuk melakukan dan memenuhi kebutuhan hidupnya..al-insan: 30..inilah yang dapat kita pahami betapa seluruh yang diciptakan Allah semua diperuntukan untuk manusia..dan tinggallah manusia mau dan mampukah ia memaksimalkan apa yang telah diberikan untuknya. Namun, satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah ketika manusia itu melalkukan sesuatu sesungguhnya ada keterlibatan zat yang maha kuasa disana. Seseorang melalkukan sesuatu dan ALLAH pun punya kuasa atas sesuatu..inilah makna LAHAULA WALA KUWATA ILLA BILLAH..
Maka, dalam islam seseorang tak kan mampu menjadi orang yang shaleh ketika ia tak mampu menjadi seorang yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Karna maksud dari slam itu sendiri adalah pembebasan manusia, kebahagiaan manusia, kemuliaan manusia, penghormatan manusia, perlindungan manusia, dan ketinggian derajat manusia. Ini semua sesungguhnya yang menjadi target yang ingin di wujudkan oleh islam.

Bagian 5


PANDANGAN SPIRITUALITY ISLAM TENTANG MASALAH
·         Islam memandang masalah ketika sesuatu itu bergerak tak sesuai dengan qudrat yang di ciptakan untuknya..dan semua itu disebakan oleh ulah tangan manusia sehingga ini menjadi suatu permasalahan..Ar-rum:40..
·         Dan yang kedua ini islam memandang suatu masalah pada porsi tertentu menjadi satu bentuk kasih sayang ALLAH SWT terhadap hamba..” sesunggungnya ALLAH jika mencintai suatu kaum akan menimpakan bala’..jika mereka ridho maka berhaklah bagi mereka keridhoanKU.” Al hadist.. satu kisah yang pernah kami dapat dari seorang guru yang menceritakan seorang sahabatnya yang memiliki seorang anak disability belasan tahun ia merawat anak dengan penuh kasih sayang dan selalu ia antar dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Namun ketika ia ditanya bagaimana anda bias bertantahan dalam keadaan seperti ini ia menjadi dengan penuh ketenangan “mungkin karna inilah yang menyebabkan aku akan mendapat syurga ALLAH SWT”..  
·         Dan islam juga memandang manusia dengan segala keterbatasannya adalah makhluq yang senantiasa melakukan kesalahan dan kealpaan dan permaslahan selalu lahir dari keterbatasan ini..oleh karna itu islam menyediakan ruang yang kita kenal sebagai ruang taubat..suatu konsep islahun nafs..perbaikan diri..



Bagian 6



IMPLIKASI SPIRITUALITY DALAM PERTONGAN PEKERJAAN SOSIAL

Spiritualitas merupakan upaya pencarian manusia akan makna dan tujuan hidup, untuk melihat dan memahami. Proses menjadi manusia sebagai kesatiuan yang utuh yang terbentuk dari berbagai pengalaman hidup. Aliran ini berbeda dengan dua aliran seperti humanis dan existensialis., karna aliran spirituality ini mendasari pikiran dengan filosofi agama dan ini memberikan pengaruh langsung terhadap aliran spirituality ini. Banyak pekerja social memandang kehidupan social sebagai pengembangan diri spiritual. Banyak terapis yang mengungkapkan mengenai kesembuhan social sebagai kebangkitan diri maupun kepribadian secara spiritual. Ahli teori utamanya : Claxton, young, eisendrath, dan muramoto. Para teoritisi ini memandang bahwa kebangkitan individu bukan sekedar peningkatan kemampuan pribadi orang dalam menghadapi masalah yang menimpanya, akan tetapi lebih merupakan harmonisasi antara kedirian (self) dengan spiritualitas agama.
            Dan. Dalam islam kita mengenal bentuk persaudaraan (al ukhuwah) dan ukhuwah dapat kita bagi menjadi dua bagian, dan ini akan erat kaitannya dengan impilikasi pertolangan dalam pekerjaan sosial:
1.      Ukhuwah islamayah
Pada tahap ini seorang pekerja social haruslah memperhatikan tahapan ukhuwah ketika hendak melakukan proses pertolongannya yang mana ini sesuai dengan rukun ukhuwah tersebut:
·         At ta’ruf : proses perkenalan secara mendalam
·         At tafahum: proses memahami bentuk permasalahannya
·         At ta’wun : proses pertolongan
·         At takaful : proses memikul beban

2.      Ukhuwah basyariyah
Pada point ini yang kami maksudkan adalah ketika proses pertolongan dilakukan dengan klient yang berbeda latar belakang, agama misalnya..maka  hal utama dalam spirituality islam kita mengenal sebuah konsep “AL MUSAWA AL INSANIYAH”.
Maka, asas yang dibangun oleh islam adalah persamaan hak pada tataran kemanusiaan..karna memang dalam al qur’an bahwa manusia adalah makhluq yang mulia pada saa tmelihat perbedan keturunan, warna kulit ataupun yang lainnya dihadapan hukum. Dan ini tergambar tegas pada khutbah Rasulullah SAW pada haji wada’.
Semua ini tidak saja pada tataran teori akan tetapi sampai pada tataran prakteknya. Bagaimana dalam hukum islam semua manusia adalah sama.. maka pada masa khalifah umar bin khattab, bagaimana beliau memenangkan aduan seorang nasrani qibti dari mesir yang mengadukan seorang anak gubernur mesir saat itu yang telah berbuat zholim padanya.. dan pada posisi seperti inilah seorang pekerja social dapat menjadi seseorang yang mengadvokasi klientnya yang berbeda latar belakang tersebut dan ini sejalan dengan teory spirituality islam..
Allahu a’lam bisshowab


SUMBER BACAAN
1.      Al qur’an dan al hadist
2.      Abul hasan ali an nadwi; Maza khosirol alam bin khitotil muslimin (kerugian dunia karena kemunduran kaum muslimin).
3.      Yusuf al qardhowi; khosho’is amah lil islam (karekteristik islam).
4.      Hasan al bana; Majmu’ah Rasa il (Risalah pergerakan)
5.      Hand out mata kuliah teori pekerjaan social. Bp drs. Ari Bowo, M.Si

Senin, 31 Oktober 2011

Advokasi dalam pekerjaan sosial

MODEL ADVOKASI & PEMBERDAYAAN DALAM PRAKTEK PEKERJAAN SOSIAL

KASUS :
Pekerja Anak di Sektor Informal Semakin Mengkhawatirkan
Pikiran Rakyat, Rabu, 23/03/2011 - 16:19


KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"
Seorang pekerja anak sedang menyelesaikan pembuatan alas kaki di sebuah bengkel alas kaki di daerah Tanah Sareal Kota Bogor, belum lama ini. Nasib para pekerja anak di sektor informal di wilayah...BOGOR, (PRLM).- Nasib buruh anak yang berada di sektor informal yang ada di wilayah Kota Bogor semakin mengkhawatirkan. Pasalnya, jumlahnya yang banyak dan diperkirakan meningkat sangat sulit didata sehingga sangat minim mendapat perlindungan.
Kepala Seksi Pengawasan Tenaga Kerja Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan Kota Bogor, Samson Purba, Rabu (23/3) mengatakan, pihaknya memang mengkhawatirkan nasib para buruh anak yang berada di sektor informal. Hanya saja, Disnakersos Kota Bogor sejauh ini hanya memiliki wawenang untuk melindungi anak-anak yang bekerja di sektor formal.
"Anak-anak yang berjualan di pasar atau yang menjadi sopir angkot itu, bukan wewenang kami. Padahal jumlahnya di lapangan pasti banyak. Hanya saja, sulit untuk didata," ujarnya,
Dikatakan Samson, harus ada aksi dari Pemkot Bogor untuk mengakomodasi masalah tersebut sehingga pekerja anak di sektor informal bisa terlindungi hak-haknya. "Kami hanya bisa menegur, tidak bisa menindak, karena memang tidak ada dalam deskripsi tugas kami," tambahnya.
Diperkirakan Samson, jumlah buruh anak yang bekerja di sektor informal di Kota Bogor jauh lebih banyak dibandingkan pekerja anak yang bekerja di sektor formal. "Di sektor formal saat ini sudah hampir tidak ada buruh anak. Kalaupun ada, para pemilik usaha sudah memberikan jam kerja yang fleksibel," katanya.
Lebih lanjut, Samson mengatakan jika untuk kondisi kota besar sep erti Kota Bogor, mempekerjakan anak tidak bisa dihindari. Sebab, masih banyak pula orangtua yang belum menyadari atau tidak bisa menjamin kehidupan yang layak anak-anak mereka sehingga anak-anak mereka terpaksa dipekerjakan. Namun yang perlu diperhatikan, anak-anak harus diperlakukan selayaknya anak-anak. Dengan demikian, mereka harus diberikan waktu menikmati pendidikan dan hak untuk bermain.
Anak-anak yang berusia 13-15 tahun, kata Samson diperbolehkan bekerja, sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental, dan sosial. Pengusaha yang mempekerjakan anak pada pekerjaan ringan pun harus memenuhi sejumlah syarat, antara lain adanya izin tertulis dari orangtua/wali, ada perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali, dan waktu kerja maksimal 3 jam.
Selain itu pekerjaan harus dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu sekolah, adanya perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja (K3), dan adanya hubungan kerja yang jelas. Anak-anak juga harus menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Anak-anak tidak diperbolehkan bekerja di pekerjaan yang memuat kekerasan, pornografi, dan membahayakan kesehatan serta moralnya.
Kota Bogor, lanjut Samson, sebenarnya sudah membentuk Komite Aksi Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Anak (PBPTA). Komite ini bertugas mengawal Konvensi ILO No.182 mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera PBPTA, yang disahkan dengan UU No.1 Tahun 2000 yang juga mempertegas UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Hanya saja, pendataan pekerja anak di sektor informal sangat sulit sehingga kinerja komite ini pun belum menunjukkan hasil yang memuaskan. (A-155/kur)***


ADVOKASI :

·         STRENGTH

1.      Membantu memperoleh  hak & sumber pelayanan
2.      Memberikan dukungan aktif terhadap perubahan-perubahan kebijakan dan program-program yang memiliki efek negatif pada klien baik secara individual maupun kelompok.
3.      Mengatasi hambatan-hambatan yang membatasi sekelompok atau kategori orang-orang tertentu dalam merealisasikan hak-hak sipil atau dalam penerimaan manfaat yang ditujukan bagi mereka.

·         WEAKNES
1.      Melibatkan dukungan massa yang banyak & dianggap oposan
2.      Diabaikan krn dianggap lapisan bawah & menolak kebijakan
3.      Rentan diboncengi kepentingan lain
4.      Menimbulkan banyak  persepsi dan sikap skeptis
5.      Dapat perlawanan krn dianggap radikal
6.      Ada perlawanan dr pihak yang bersebrangan

PEMBERDAYAAN:
·         STRENGTH
1.      menghindarkan polarisasi kasar aksi sosial dan perspektif individualisasi yang menempatkan pekerjaan sosial dengan individu dan keluarga dalam konteks kepentingan tujuan sosial.
2.      mengharuskan adanya komitmen untuk mempertahankan dan meningkatkan pelayanan adil yang efektif dan juga konfrontasi terhadap penilaian negatif yang sudah meresap.
3.      kendali diri, tanggung jawab pribadi dan aktualisasi diri


·         WEAKNES
1.      kecenderungan ketergantungan sasaran pemberdayaan
2.      Membutuhkan waktu yang panjang dan terkesan tidak efisien
3.      Menyita sumber daya yang sangat besar
4.      Tergantung pada PSKS  yang ada
5.      Buttom up _ klise
ANALISIS MASALAH:
Asumsi ;
            Sangat minimnya perlindungan yang didapat disebabkan tak adanya wewenang untuk melindungi anak-anak yang bekerja disektor informal.
            Adanya sebuah tren yang terus meningkat, maka pendataanpun kian semakin sulit. Sementera akomodasi perlindungan sampai saat ini hanya di peruntukan untuk anak-anak yang bekerja di sector formal saja.
            tidak adanya penindakan atau intervensi dari dinas social disebabkan oleh tak terdapatnya dalam tugas deskripsi tugas. Sehingga hak-hak yang seharusnya di dapatkan terabaikan.
            Kondisi perekonomian keluarga pun menjadi salah satu sebab mengapa tren ini terus meningkat. Maka, rencana intervensi terhadap keluarga juga menjadi sangat urgen.

Tujuan advokasi :
1.      Membantu anak-anak yang bekerja di sector informal untuk mendapatkan hak-haknya.
2.      Membuat analisis paper untuk pemerintah agar kebijakannya mampu merambah pada ranah yang selama ini belum terjangkau.

Sasaran advokasi :
1.     Anak-anak yang bekrja di sector informal
2.     Revisi undang-undang mengenai kebijakan yang sama terhadap anak-anak yang bekerja di sector informal.
Bentuk advokasi :
            Dalam rangka menjamin hak-hak anak-anak yang bekerja di sector informal seperti waktu kerja, pendidikan, kesalamatan dalam bekerja. Serta menjangkau kebijakan pemerintah agar juga menjangkau ranah yang selama ini tak terjangkau.
Strategi dan pihak-pihak yang terlibat dalam advokasi :
Strategi:
1.      Memperoleh informasi yang relevan
Keutuhan mengenai kondisi yang di lapangan sangat dibutuhkan untuk mendukung adanya advokasi yang maksimal.
2.      Kolaborasi
Adanya keterlibatan banyak pihak akan membantu dalam proses  advokasi itu sendiri dapat terlaksanakan dengan baik. Utamanya hak-hak dari pada anak-anak.

Pihak-pihak  yang terlibat:
a.     Anak-anak pekerja di sector informal
b.     Orang tua dari anak-anak yang bekerja di sector informal
c.      Para pengusaha yang memperkerjakan anak-anak di sector informal
d.     Dinas social kota bogor
e.      Pekerja social
Langkah-langkah dalam advokasi:
—  Mengidentifikasi masalah dan  kondisi lingkungan tempat anak-anak bekerja di sector informal
—  Menganalisis  kekuatan yang mendukung dan menentang
—  Mengorganisir sumber dukungan
—  Merumuskan solusi
—  Membangun political will
—  Melakukan pendampingan kepada pemangku kebijakan.
—  Mengorganisir sumber dukungan baik dari lembaga itu sendiri maupun masyarakat.
—  Mengevaluasi kegiatan
Langkah-langkah pemberdayaan:
—  Pembentukan kelompok kerja masyarakat yang bertujuan untuk memobilisasi potensi moril dan materil yang ada.
—  Membangun kesepakatan antara anak, orang tua, dan pengusaha.
—  Menyusun jadwal kegiatan.
—  Membagi tugas & tanggung jawab anggota klp kerja.
—  Pelaksanaan
—  Evaluasi
Mungkin demikian yang dapat kita lakukan, dan semoga ini adalah usaha yang maksimal untuk mengaplikasi sebuah ilmu pada alam nyata. Dan semua keberhasilan adalah hasil dari perbuatan tanpa adanya perbuatan mungkin ilmu tinggallah ilmu.