Tawuran pelajar dan mahasiswa
Surprisenya Bapak menteri pendidikan kita adalah surprise kita semua
ketika bertanya pada salah seorang pelajar yang melakukan aksi tawuran.
Terkejut, kaget dan berbagai macam perasaan yang terasa begitu sulit untuk menggambarkan
tragedi besar akhir-akhir ini. Bagaimana mungkin seorang pelajar SMA merasa
puas setelah membunuh saudara sebangsanya sendiri. Evaluasi diarahkan bukan
lagi pada dunia pendidikan semata tapi sudah menjadi tragedi sosial bangsa.
Kemarin, lagi dan lagi telingan kita terasa begitu bising mendengar berita
miris kematian seorang mahasiswa di makasar yang meninggal akibat tawuran. Dimana
letak kesalahannya..? pertanyaan seperti ini
perlu memang untuk kita ajukan pada semua yang terkait akan hal ini terutama dimana peran
negara. Namun, ada yang lebih bijak yaitu dengan meletakan tanggung jawab pada semua, keluraga, sekolah, tokoh
masyarakat, tokoh agama dan masyarakat tanpa terkecuali.
Terlihat ada sesuatu yang luntur secara sadar ataupun tidak sudah
terjadi pada bangsa yang kita cintai. Kita membaca banyak buku tentang
kehidupan, perilaku dan berbagai kebaikan dari mulai kegotong-royongan hingga
toleransi yang diceritakan tidak saja oleh anak bangsa ini sendiri, namun juga
yang ditulis oleh mereka yang pernah merasakan hidup di tanah penuh berkah ini.
Re-orientasi
nilai dan norma
Penanaman pengertian yang benar tentang hakikat kehidupan bagi manusia
serta martabat dan fungsi manusia dalam kehidupannya sudah menjadi satu
keharusan disaat remaja usia rentan mangalami dis-orientasi nilai dan norma
dalam kehidupannya sehrai-hari. Intervensi dari komunitas dalam arti positif
harus terus bergerak secara natural sebagai langkah kontrol sosial.
Norma-norma sosial akan sangat berperan dalam mengontrol bentuk-bentuk
perilaku yang tumbuh dalam masyarakat. Itu semua dapat kita fahami bersama oleh
karena norma merupakan sekumpulan aturan yang diharapkan dapat dipatuhi dan
diikuti oleh anggota masyarakat pada suatu entitas sosial tertentu. Norma-norma
ini biasanya terinstitisionalisasi dan mengandung sangsi sosial yang dapat
mencegah individu berbuat sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan yang berlaku
dalam suatu masyarakat tertentu. Aturan-aturan kolektif itupun biasanya tidak
tertulis tapi dipahami oleh setiap anggota masyarakatnya dan menentukan pola
tingkah laku yang diharapkan dalam konteks hubungan sosial dan mungkin inilah
yang sudah mulai tergerus zaman dikalangan anak muda dan remaja.
Aturan-aturan kolektif seperti saling menghormati, norma tidak
mencurigai orang lain, norma hidup sehat baik dalam perspektif kesehatan
masyarakat ataupun perspektif risk, merupakan contoh norma sosial. Jika
didalam suatu komunitas, asosiasi, kelompok atau group, norma tersebut tumbuh,
dipertahankan dan kuat akan memperkuat masyarakat itu sendiri. Itulah alasan
rasional mengapa norma merupakan salah satu unsur modal sosial yang akan
merangsang berlangsungnya kohesifitas sosial yang hidup dan kuat.
Sementara nilai adalah suatu ide yang telah turun temurun dianggap benar
dan penting oleh anggota kelompok masyarakat. Sebagai contoh, nilai harmoni,
prestasi, kerja keras, kompetisi atau musabaqoh dalam bahasa agama dan lainnya
merupakan contoh-contoh nilai yang sangat umum dikenal dalam kehidupan
masyarakat. Nilai senantiasa memiliki kandungan konsekuensi yang ambivalen.
Nilai tawazun (keseimbangan) dan harmoni misalnya, yang oleh banyak
kalangan dianggap sebagai pemicu keindahan dan kerukunan hubungan sosial yang
tercipta, tetapi di sisi lain justru sebaliknya dipercaya sebagi penyulut untuk
senantiasa menghasilkan suatu kenyataan yang menghalangi kompetisi dan
produktifitas. Namun, Satu hal yang seharusnya kita syukuri bersama adalah
masyarakat indonesia adalah kelompok masyarakat yang mengutamakan nilai-nilai
harmoni biasanya akan senantiasa ditandai oleh suatu suasana yang rukun, indah
inilah yang saat perlu untuk kita refresh kembali.
Nilai senantiasa berperan penting dalam kehidupan manusia. Pada setiap
kebudayaan, biasanya terdapat nilai-nilai tertentu yang mendominasi ide yang
berkembang. Dominasi ide tertentu dalam masyarakat akan membentuk dan
mempengaruhi aturan-aturan bertindak masyarakat (the rules of conduct) dan
aturan aturan bertingkah laku (the rules of behavior) yang secara
bersama-sama menurut sosiolog membentuk pola-pola kultural. Keterbentukannya
sedikit banyak membantu mewujudnya kembali norma dan nilai yang seharusnya
melekat pada kehidupan anak bangsa wabil khusus anak muda dan remaja bangsa
ini.
Beri mereka ruang lebih: guru agama, psikolog dan
pekerja sosial
Ikan hanya akan leluasa untuk bergerak ketika berada di air, karena memang
ruangnyalah disana, ada banyak peran yang mampu termasimalkan ketika gula yang
dicampur dengan teh atau kopi dan bukan garam. Kritik-kritik seperti ini yang
sering muncul. Guru agama misalnya pendidikan di sekolah-sekolah dan
kampus-kampus berapa porsi yang di berikan secara formal oleh pihak sekolah dan
kampus untuk mata pelajaran keagamaan. Apakah kita kekurangan guru agama
padahal disaat bersamaan setiap tahunnya berapa ribu mahasiswa yang pulang ke
tanah air selepas menuntut ilmu di timur tengah seperti mesir, arab saudi,
yaman dan berbagai negara lainnya. Bukankah aib besar negara yang ideologinya
pancasila dimana di dalamnya ada amanah untuk menjunjung tinggi nilai ketuhanan
namun hanya memberi porsi satu, dua atau tiga jam setiap pekannya untuk mata
pelajaran agama dan di universitas-universitas hanya memberi mata kuliah agama
hanya di semester satu dan dua. Kesalahan terbesar adalah meninggalkan
pendidikan agama dan bukan mengejar pendidikan dunia. Disaat memisahkan antara
keduanya tanpa batas inilah awal kebangkrutan moral dan sosial.
Tawuran sangatlah erat kaitannya dengan psikososial. Maka, ada dua peran
profesional yang tidak boleh untuk di kesampingankan. Pertama, psikolog. Dunia
belajar mengajar (dunia pendidikan) merupakan salah satu lahan dari psikologi
secara umum. Psikologi pendidikan berperan penting dalam peningkatan mutu seorang
pelajar ataupun mahasiswa dengan menerapkan prinsip-prinsip psikologi kedalam
dunia pendidikan. Psikologi dengan objek manusia (tingkah laku), sedangkan
pendidikan berorientasi pada perubahan perilaku, cocok untuk dipadukan dengan
harapan mendapatkan perilaku siswa yang diinginkan.
Kedua, pekerja sosial. Profesi ini diperlukan meskipun di indonesia
profesi pekerja sosial belumlah populer terlebih di dunia pendidikan, padahal
jika kita tilik dan lihat lebih dalam sesungguhnya profesi pekerja sosial
adalah adalah yang pertama dalam pelayanan manusia yang memberikan fokus pada
manusia dalam lingkungan sebagai suatu paradigma dalam melakukan asesmen
perubahan. Kerangkanya pun sangatlah lengkap biopsikososial-spiritual.
Pekerjaan sosial menawarkan suatu perspektif yang luas dalam perilaku manusia.
Kerangka inilah yang nantinya digunakan untuk mengases berbagai situasi dalam
konteks komunitas, keluarga dan lingkungan sosial yang lebih luas. Situasi
dipahami sebagai gabungan antara faktor-faktor fisik, psikologis, sosial dan
spiritual. Dengan kata lain, kebutuhan manusia dan sumber-sumber untuk memenuhi
kebutuhan tersebut dipandang sebagai kesatuan yang salang terkait. Mengingat
akses terhadap terhadap sumber-sumber untuk kelangsungan hidup, pendidikan dan kesehatan adalah faktor yang sangat
penting, maka intervensi seorang pekerja sosial untuk perubahan diarahkan
secara holistik pada individu, keluarga, komunitas dan lingkungan agar terjadi
perubahan dalam alokasi dan ketersediaan sumber-sumber untuk memenuhi kebutuhan
manusia.
Jadi, tawuran yang sering terjadi belakangan ini sudah menjadi tragedi sosial
bangsa. Melebarkan tanggungjawab bukan berarti lepar batu sembunyi tangan.
Bonus demografi yang diberikan Allah SWT untuk bangsa ini haruslah kita
berusaha untum memaksimal menju kejayaan bukan justru sebaliknya akan menjadi
bencana bangsa dimasa yang akan datang.