Senin, 23 Juli 2012

Kerumitan yang memuliakan


Kerumitan yang memuliakan
Oleh : eldick muhammad
hanyalah ingin sedikit berbagi. Tessa sempit sempat ku lakukan disaat merenung  jelang sholat tarawih malam tadi. Itu bermula saat benak ini berlari jauh ke masa SMA dahulu, saat itu kyai pondok pesantrenku bercerita tentang perjalanan hidup para sahabat Rasulullah SAW. Dan yang sangat ku ingat adalah cerita tentang abu darda salah seorang sahabat yang termasuk sahabat senior dimana beliau lebih memilih untuk pergi berhijrah ke tanah iraq dibanding berdiam diri di madinah dengan para sahabat lainnya. Dan ketika ia ditanya mengapa kamu memilih berhijrah..? sang sahabat hanya berucap “ fa inal ardho la yuqiddisu ahadan”.  Bumi itu tidaklah bisa memuliakan seseorang. Perkataan yang menurutku dekat pada kebenaran. Karena, memang di makkah ada nabi Muhammad SAW. Tapi, juga ada abu jahal dan abu lahab. Di mesir ada nabi Musa a.s tapi juga ada fir’aun. Dan di madinah ada banyak para sahabat yang mulia radhiallahu anhum ajma’in. tapi disana ada kepala munafiqin terbasar dalam sejarah. Memang seperti itulah adanya.
Dan yang menjadi perhatianku adalah tidaklah sesuatu itu selalu linear. Orang-orang mekkah tidaklah semua baik. Dan orang-orang amerika tidaklah semua buruk. Dan juga tidaklah semua yang ‘tahu’ agama itu serta merta menjadi mulia. Sekali lagi aku menggunakan kata ‘tahu’ dan bukan kata ‘faham’ karena memanglah berbeda. Inilah yang membuat kita semua semakin faham bahwa mengapa imam al banna meletakan al fahmu diurutan yang pertama dalam arkanul bai’ahnya. 
Lahir dari fenomena, aku melihat tantangan terbesar mereka yang banyak belajar agama, mereka yang pergi jauh ribuan kilo meter bahkan sampai ke timur tengah adalah mampukah menjadi seperti bintang di langit dan bukan menjadi seperti asap. Mampukah ia menjadi padi yang semakin berisi justru semakin merunduk. 
Mendengar memang telah menjadi pekerjaan yang terasa berat bagi sebagian kita. Dan lebih lagi untuk mereka yang telah dianugrahkan Allah SWT kelebihan penegetahuan. Rumit, ya sungguh memang rumit. tapi, Disitulah tantangannya. Menangkap sinyal kebaikan dari orang lain. Banyak menasihati masyarakat itu sangat baik. Namun, disaat yang bersamaan juga harus siap dinasihati. Merasa pe de “percaya diri” itu bagus. Tapi jangan pernah meresa paling benar pada hal-hal yang memungkinkan kita berbeda. Karena Menutup telinga pada sinyal kebaikan menjadi titik awal kehancuran. Lupakah kita pada kisah haman. Orang pintar yang tak menggunakan potensinya untuk kebaikan. Lupa pulakah kita kisah orang-orang yang ada disekitar kita yang punya kans untuk menjadi pemenang tapi justru mencampur garam pada kopi bukan pada sayur. karena kerumitan itulah yang membuat kita mulia. Allahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar