Kerumitan
yang memuliakan
Oleh : eldick muhammad
hanyalah
ingin sedikit berbagi. Tessa sempit sempat ku lakukan disaat merenung jelang sholat tarawih malam tadi. Itu bermula
saat benak ini berlari jauh ke masa SMA dahulu, saat itu kyai pondok
pesantrenku bercerita tentang perjalanan hidup para sahabat Rasulullah SAW. Dan
yang sangat ku ingat adalah cerita tentang abu darda salah seorang
sahabat yang termasuk sahabat senior dimana beliau lebih memilih untuk pergi
berhijrah ke tanah iraq dibanding berdiam diri di madinah dengan para sahabat
lainnya. Dan ketika ia ditanya mengapa kamu memilih berhijrah..? sang sahabat
hanya berucap “ fa inal ardho la yuqiddisu ahadan”. Bumi itu tidaklah bisa memuliakan
seseorang. Perkataan yang menurutku dekat pada kebenaran. Karena, memang di
makkah ada nabi Muhammad SAW. Tapi, juga ada abu jahal dan abu lahab. Di mesir
ada nabi Musa a.s tapi juga ada fir’aun. Dan di madinah ada banyak para sahabat
yang mulia radhiallahu anhum ajma’in. tapi disana ada kepala munafiqin terbasar
dalam sejarah. Memang seperti itulah adanya.
Dan yang menjadi perhatianku adalah tidaklah sesuatu
itu selalu linear. Orang-orang mekkah tidaklah semua baik. Dan orang-orang
amerika tidaklah semua buruk. Dan juga tidaklah semua yang ‘tahu’ agama itu
serta merta menjadi mulia. Sekali
lagi aku menggunakan kata ‘tahu’ dan bukan kata ‘faham’ karena memanglah
berbeda. Inilah yang membuat kita semua semakin faham bahwa mengapa imam al
banna meletakan al fahmu diurutan yang pertama dalam arkanul bai’ahnya.
Lahir
dari fenomena, aku melihat tantangan terbesar mereka yang banyak belajar agama,
mereka yang pergi jauh ribuan kilo meter bahkan sampai ke timur tengah adalah
mampukah menjadi seperti bintang di langit dan bukan menjadi seperti asap. Mampukah
ia menjadi padi yang semakin berisi justru semakin merunduk.
Mendengar
memang telah menjadi pekerjaan yang terasa berat bagi sebagian kita. Dan lebih
lagi untuk mereka yang telah dianugrahkan Allah SWT kelebihan penegetahuan.
Rumit, ya sungguh memang rumit. tapi, Disitulah tantangannya. Menangkap sinyal
kebaikan dari orang lain. Banyak menasihati masyarakat itu sangat baik. Namun,
disaat yang bersamaan juga harus siap dinasihati. Merasa pe de “percaya diri”
itu bagus. Tapi jangan pernah meresa paling benar pada hal-hal yang
memungkinkan kita berbeda. Karena Menutup telinga pada sinyal kebaikan menjadi
titik awal kehancuran. Lupakah kita pada kisah haman. Orang pintar yang tak
menggunakan potensinya untuk kebaikan. Lupa pulakah kita kisah orang-orang yang
ada disekitar kita yang punya kans untuk menjadi pemenang tapi justru mencampur
garam pada kopi bukan pada sayur. karena kerumitan itulah yang membuat kita mulia.
Allahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar