Rabu, 18 April 2012

bagaimana setalah menang..?

Bagaimana setelah menang..?
By : eldick muhammad

Beberapa hari lalu saya melihat profile pic salah seorang sahabat dari benghazi Libya. Ada yang menarik ketika mata saya tertuju pada gambar tersebut, yaitu suatu ungkapan kegetiran dari seorang pemuda dari bangsa yang baru saja melakukan perubahan besar dalam sejarahnya  “wa ma zala wathoni yu’limini”. Masihlah aku  merasa sedih dengan keadaan bangsa ku. Libya, memang sudah berada pada era baru, tapi konflik tak serta merta usai.
Dan Hari-hari ini kita disajikan satu hiruk-pikuk situisi politik ibu kota jelang pilkada gubernur jakarta 2012 yang akan dilakukan pertengahan tahun ini. Satu tahun lalu, Libya pun sibuk dengan hiruk-pikuk revolusi bahkan ada perang  saudara disana. Oposisi menang. Namun, masihlah ada suara kegetiran dari rakyat seperti yang terucap dari seorang sahabat di atas. Tak mudah memang mengisi kemenangan. Perpaduan semua jenis kebaikan menjadi tuntutan bagi para pemenang, karna disana ada tanggung jawab, kreativitas dan keikhlasan yang mengisi hari-hari pasca kemenangan.
Sehingga Harapan menjadi satu-satunya bahasa rakyat untuk memilih seorang pemimpin. Bisakah para kandidat memberikan harapan yang mampu dipetik dengan mudah seperti memetik buah dari pohon yang telah dibonsai ataukah harus dahulu memanjat pohon kelapa hingga tak semua mampu memetiknya kecuali mereka yang kuat ataupun mereka yang mampu membayar orang untuk memetiknya.
 Kampanye menghadirkan harapan, dan kemenangan adalah ruang mempertemukan antara kesempatan dan kenyataan, mempertemukan hasrat dan keberdayaan. persis seperti mempersatukan dua insan yang telah saling mencintai namun terhalang oleh status, adat ataupun harta menjadi pekerjaan dan tradisi besar para khalifah. Karna jika hasrat itu bertemu dengan ketidakberdayaan tinggallah kesedihan.
Maka, wajarlah jika pertanyaan semacam ini selalu muncul lantaran harapan yang selama ini dijanjikan masih tergantung jauh di atas monas dan tak kunjung turun atau bahkan sekedar menyapa kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar