Selasa, 25 Oktober 2011

BERSABAR DALAM KETAATAN


Bersabar dalam ketaatan
Tulisan ini ku tulis berawal dari pertanyaan  al akh ‘’saudara” inilah kosakata yang paling senang digunakan Rasullah SAW ketika menyapa sahabatnya. Saat pengajian pekanan al akh bertanya ‘apakah ada kiat-kiat agar kita mampu bersabar dalam ketaatan?’.
Setiap akh mungkin memiliki jawaban masing-masing dan kita yakin jawaban satu dan yang lainnya pasti saling melengkapi. Dan aku pun memiliki jawaban yang ku kira bisa menambahkan sedikit dari jawaban.
Ada Sebuah riwayat dari Rasulullah SAW “ ketika fitnah begitu besar, maka seseorang yang paginya mukmin. Namun, malamnya bisa menjadi kafir. Dan ada yang malamnya ia seorang mukmin. Namun, paginya telah menjadi kafir”. Dari jahil kita diperintahkan tuk berilmu dan tak ada izin sedikitpun  berhenti pada ilmu, alangkah besarnya kemurkaan Allah atas orang yang mengetahui namun tak mampu mengamalkan. Amal adalah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT. Dan untuk bersabar dalam ketaatan kita butuh stamina. Karna dengan penuh kesadaran, kita meyakini kita ini mahluk lemah. Maka, Wajarlah ketika sayyid Muhammad nuh menulis kitab afat a’lat thariq, beliau mengungkapkan diantara penyatkit yang sangat mengancam adalah futur ‘berhenti dalam ketataatan’. Dan beliau memberikan solusi dengan hadist Rasulullah SAW “Berpegang teguhlah dengan jamaah”.
Hidup dalam sebuah jama’ah komunitas muslim yang baik merupakan kewajiban syaria’t dan kebutuhan asasi setiap muslim. Maka, kitakan semakin mampu memehami mengapa ibnu kholdun mengatakan “al insane madhaniun bit tho’I” manusia adalah mahluk social. membutuhkan orang lain yang juga mampu membantunya dalam ketaatan. Untuk taat, kita butuh saudara yang selalu mengingatkan ketika kita menyimpang, berbuat kesalahan. dan  Ketika kita tertidur dan tak dapat berdoa di sepertiga malam,  ternyata kita mendapatkan doa dari saudara kita yang bangun berdiri sholat qiyamullail dan menyisipkan nama kita dalam doanya. Indahnya berjama’ah.
Kambing yang sendiri akan mudah diterkam serigala. Syaiton itu dekat dengan satu orang dan akan semakin jauh jika kita berjama’ah. Sedikit kita merenung. Ternyata Allah berikan kepada kita sebuah rasa yang selalu menjaga, yaitu rasa malu. Kita akan merasa malu apabila melakukan kemaksiatan didepan banyak orang. Awalnya mungkin hanya karna itu, terpaksa. Tapi, bukankah terkadang sesuatu itu berawal dari keterpaksaan! Dan pada saatnya akan menjadi sikap dan kepribadian kita yang tulus karena Allah Allah SWT. Seperti Rasulullah SAW yang dipaksa oleh malaikat jibril untuk membaca bahkan hingga 3x malaikat jibril memaksa Rasulullah SAW untuk membaca di awal datangnya wahyu. Yang sesengguhnya harus kita takutkan adalah ketika kita tidak lagi memiliki rasa malu melakukan kemaksiatan di depan banyak orang, apalagi ketika tak satupun melihat. Allahu A’lam..  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar