Selasa, 25 Oktober 2011

MORAL DAN KESEJAHTERAAN


Moral dan Kesejahteraan
Oleh : Muhammad Dic Hidayat Ratuloly

“dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan(ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”
(al isra’16)

Umat saat ini tidaklah mungkin dapat meraih kemulian kecuali mereka melakukan sebagaimana apa yang telah dilakukan generasi pendahulunya. Setidaknya itulah sangkaan yang amat mungkin mendekati kebenaran. Tidaklah berlebihan jika kalimat inilah yang selalu di ucapkan hasan al banna ketika menyampaikan ceramah-ceramahnya di tengah masyarakat mesir. Satu keinginan yang sangat besar agar umat dan bangsanya benar-benar melihat sejarahnya, sejarah yang selalu menjadi perbicangan zaman sesudahnya, ini bukanlah dongeng belaka yang tak dapat di teladani, tapi ini merupakan contoh hidup dari kehidupan yang di penuhi keimanan, ketawadhu’an dan semua bentuk kebaikan, generasi awal umat ini kaum muhajirin dan anshor.  Adakah diantara kita yang meragukan kejayaan yang telah mereka raih. Dahulu mereka hanyalah bangsa yang keberadaannya tidak pernah dianggap ada, liar, suka berperang, jauh dari nilai peradaban. Tapi islam merubah itu semua. Hingga tak satu pun kerajaan yang ada di dunia saat itu yang tak mengakui kemuliannya.

Dan ketika Rasulullah SAW wafat kemudian di gantikan oleh Abu bakar ash shidiq ra sebagai khalifah. Ada satu pesan Rasulullah SAW yang selalu di ingat oleh sang khalifah jika ingin selalu  berada pada kemuliaan, dengan firman Allah SWT “dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan(ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”(al isra’16). sesungguhnya ini adalah perintah untuk berkomitmen memerangi kemungkaran dan kebobrokan moral. Maka syeikh Ash sholabi di dalam bukunya ‘abu bakar ash shidiq kepribadian dan zamannya’  menerangkan bagaimana abu bakar ash shidiq ra menjadikan perang melawan keboborokan moral dan kemungkaran sebagai salah satu program prioritas pada masa kekhalifahannya.

 Dalam waktu yang mungkin terhitung sangat singkat ia mampu mempertahankan apa yang telah rintis dan dilakukan Rasullah SAW. Sadarlah ia akan akibat yang begitu berat dari penyakit ini jika di biarkan. Dalam ucapanya belaiu mengatakan “tidaklah kemungkaran itu di ikuti oleh suatu kaum maka Allah SWT akan menimpakan azabNYA” (sunan abu daud. 3462).

Umat yang kuat adalah mereka yang tidak disibukan oleh syahwat dan tidak disesatkan oleh tipu daya syaitan. Ada satu fakta sejarah yang mungkin jarang terangkat, ternyata pada zaman nabi Daud dan nabi Sulaiman alaihumas salam, serta zaman zul qarnain, kita dapati pada saat itu kemulian akhlaq masyarakatnyalah yang dominan, maka jadilah mereka umat dan bangsa yang terkuat di zamannya.  

Satu kesimpulan yang dapat kita ambil, bahwa adanya hubungan yang begitu erat antara akhlaq dengan kesejahteraan, kemulian dan keberhasilan suatu bangsa dalam mengatasi segala permasalahannya. Mereka yang tidak mau belajar dari sejarah dan segala fenomenanya, sangatlah sulit baginya melegenda diatas lembar sejarah, zaman merasa enggan tuk membicarakan namanya. Bukanlah aib bagi para pemimpin meneladani para pemimpin di masa lalu. Bukankah hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari seorang mukmin dan sudah seharusnya ia adalah orang yang paling nasionalis karna dalam ajarannya dilarang mengeluarkan zakat, ia lempar  jauh dimana ia tinggal sebelum saudara disekitarnya terjamin bahwa mereka telah merasakan kesejahteraan, karna  ia lah yang paling berhak.

Baik kita memiliki banyak program kemakmuran, keadilan dan yang lainya, bahkan sangat baik. Akan tetapi komitmen untuk terus memerangi kebobrokan moral  dan kemungkaran haruslah tetap menjadi program prioritas. Kesejahteraan sangat mungkin terwujud jika kemungkaran tidak mendapatkan ruangnya yang luas. Karna disanalah letak kejayaan, kemuliaan dan keselamatan suatu bangsa dari kehancuran dan ini semua memiliki logikanya yang linear terhadap kesejahteraan. Jika korupsi sudah tidak ada dan negara tidak lagi perlu mengeluarkan anggaran yang begitu besar untuk mengembalikan uang negara yang pada kenyataan seperti menembakan nyamuk dengan meriam besar, maka kesejahteraan bangsalah yang menjadi ganjaraannya yang setimpal. Dan dapat pula kita renungi para penyandang HIV AIDS misalnya, bisakah saudara kita itu mampu menjalankan keberfungsian socialnya dengan baik..???bukankah itu menjadi ”beban”, itulah mengapa dalam agama pesannya selalu makarimul akhlaq.
Dan kita sebagai bangsa yang sangat religius memliki energi potensial yang begitu besar untuk mewujudkan itu semua. sekarang tinggallah kita merubahnya menjadi energi kinetik. Indah, sangat indah syair arab yang ditulis pada cover sebuah kitab kecil akhlaq lil banin yang banyak dikaji di pesantren-pesanten dan surau-surau di negeri ini.
Bangsa bergantung pada akhlaqnya
Jikalau akhlaq itu telah hilang maka apalah lagi yang tersisa
Semoga kemulian akhlaqlah yang mendominasi bangsa kita, setelah para peminpinya menjadikan perang melawan kebobrokan moral dan kemungkaran menjadi program prioritasnya dalam mewujudkan kesenjahteraan bangsa dan mungkin saat inilah saat yang tepat untuk memulai reformasi gelombang kedua ketika Allah menakdirkan hari kemerdakaan tepat terjadi pada bulan suci ramadhan seperti saat soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia 67 tahun yang lalu.
 Allahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar